UAS SOSIOLOGI PERTANIAN-KANISIUS KARO-18024010018
Judul : Kegiatan Penyuluhan kepada Peternak
Sapi Perah
Saya mengidentifikasi kegiatan
penyuluhan kepada peternak sapi perah yang ditulis dalam jurnal berjudul “Peran
Penyuluh dalam Proses Pembelajaran Peternak Sapi Perah di KSU Tandangsari
Sumedang”. Jurnal ini ditulis oleh Unang Yumasaf dan Didin S. Tasripin, dari
Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran.
I. DEFINISI UMUM
Kata kegiatan dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) diartikan sebagai suatu aktivitas, usaha, pekerjaan. Kata
penyuluhan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai suatu
proses, cara, perbuatan menyuluh. Kata peternak dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) diartikan sebagai orang yang pekerjaannya beternak. Sapi perah
adalah sapi yang dikembangbiakkan secara khusus karena kemampuannya dalam
menghasilkan susu dalam jumlah besar. Kegiatan penyuluhan bagi peternak sapi
perah dapat diartikan sebagai suatu aktivitas menyuluh yang dilakukan oleh
seorang penyuluh kepada masyarakat yang pekerjaanya membudidayakan sapi perah.
II. GAMBARAN UMUM KEGIATAN
Tatalaksana pemeliharaan
sapi perah di KSU Tandangsari dapat dikategorikan cukup baik, meliputi
tatalaksana perkawinan, pemberian pakan, pemeliharaan sehari-hari,
perkandangan, dan kesehatan sapi perah. Tatalaksana perkawinan sapi perah telah
menggunakan Inseminasi Buatan (IB). Bibit sapi perah awalnya diperoleh dari Balai
Inseminasi Buatan (BIB) Lembang. Kemudian sejak awal bulan Maret 2002 KSU
Tandangsari telah mengusahakan sendiri bibit sapi perah guna melayani kebutuhan
peternak. Bibit yang digunakan berasal dari bangsa FH asal Kanada. Koperasi
juga menyediakan tenaga dokter hewan/inseminator beserta fasilitas
pendukungnya. Dengan adanya program inseminasi buatan ini, maka diharapkan
koperasi dapat meningkatkan kualitas sapi perah peternak guna menghasilkan
produksi susu yang tinggi dan berkualitas baik.
Sistem perkandangan sapi perah di daerah penelitian dapat
dikatakan masih sederhana. Kandang dibuat dari kayu atau bambo dengan
berlantaikan tembok dan beratapkan genting. Kandang dibuat sejajar dengan
ukuran rata-rata 3 m2 /ekor. Sebagian besar peternak belum mempunyai
pengetahuan yang cukup memadai mengenai penyakit pada sapi perah dan
penanganannya. Untuk itu, koperasi menyediakan dokter hewan guna menangani
penyakit yang menyerang sapi. Umumnya penyakit yang sering dijumpai adalah
mastitis yang ditandai dengan ambing yang bengkak, bila diraba terasa hangat,
air susu jadi encer atau bergumpal, kadang-kadang bercampur darah atau nanah,
nafsu makan menurun, bulu kusam dan kasar, produksi susu turun atau terhenti.
III. IMPLEMENTASI SOSIOLOGI PERTANIAN
3.1 Peran Penyuluh dalam
Memfasilitasi Proses Belajar Peternak Sapi Perah
Penyuluh yang dimaksudkan dalam penelitian
ini adalah mereka yang membantu terjadinya proses perubahan perilaku peternak
sapi perah, sehingga peternak sapi perah meningkat pengetahuan, sikap dan
keterampilannya dalam beternak sapi perah.
Dari pihak KSU Tandangsari yang bertindak sebagai penyuluh adalah
Pengurus, Pengawas maupun petugas lapangan, sedang dari pihak lainnya dapat
berasal dari Dinas Peternakan seperti Penyuluh Peternakan Lapangan, dan pihak
Perguruan Tinggi, terutama dari Fakultas Peternakan Universitas
Padjadjaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran
penyuluh dalam memfasilitasi proses belajar peternak sapi perah di KSU
Tandangsari sebagian besar, yaitu sebanyak 56,67 persen tergolong cukup,
sedangkan sisanya sebanyak 20,00 persen tinggi, dan 23,33 persen tergolong
rendah. Penyuluh dinilai peternak telah tergolong cukup perannya baik dalam
perannya sebagai pendidik maupun sebagai fasilitator.
Secara lengkap gambaran kinerja peran
penyuluh dalam memfasilitasi proses belajar peternak sapi perah ditampilkan
pada Tabel 1.
3.2 Peran Penyuluh
sebagai Pendidik
Sebagai pendidik penyuluh harus mampu
meningkatkan pengetahuan dan wawasan para peternak sehingga mereka bisa
mendapatkan informasi yang yang berguna dan mutakhir mengenai perkembangan dan teknik-teknik
peternakan. Sebagian besar responden menilai cukup terhadap peran penyuluh
sebagai pendidik yaitu 56,67 persen. Hal
tersebut dapat dilihat dari kelengkapan materi yang diberikan oleh penyuluh
terutama kelengkapan materi mengenai aspek zooteknis dan pemberian motivasi
yang dilakukan oleh penyuluh.
Hal-hal yang relatif sudah baik peran
penyuluh sebagai pendidik adalah dalam cara penyampaian materi yang dilakukan,
hubungan materi dengan pengetahuan peternak, dan kemampuan penyuluh dalam
menjelaskan materi. Sebaliknya hal-hal
yang dianggap masih belum dilakukan dengan baik adalah dari kelengkapan materi aspek manajemen usaha,
perhatian terhadap kesiapan mental peternak, dan pengulangan aktivitas
demonstrasi.
3.3 Peran Penyuluh
Sebagai Fasilitator
Peranan penyuluh sebagai fasilitator adalah peran penyuluh dalam
mendukung terselenggaranya proses pembelajaran peternak dengan baik.
Tjitropranoto (2003) mengemukakan bahwa penyuluh yang diharapkan saat ini tidak
cukup hanya sebagai penyedia atau penyampai informasi semata, tetapi lebih
diperlukan sebagai motivator, dinamisator dan fasilitator.
Hal yang dianggap sudah baik dilakukan penyuluh dalam perannya
sebagai fasilitator adalah dalam hal pengenalan sumber-sumber informasi. Sebaliknya yang kurang adalah dalam hal
penyediaan sarana belajar. Peran penyuluh sebagai fasilitator dinilai oleh responden
adalah sebanyak 16,67 persen tergolong tinggi, 50,00 persen tergolong cukup,
dan 33,33 persen menilai rendah.
Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa kebanyakan responden menilai
cukup peran penyuluh sebagai fasilitator terutama dalam hal tingkat pertemuan
dan metode penyuluhan yang dipakai.
IV. RINGKASAN
·
Anggota Koperasi Serba
Usaha (KSU) Tandangsari Sumedang adalah para peternak sapi perah.
·
Interaksi sosial terjadi
antara para peternak sapi perah anggota KSU Tandangsari Sumedang dengan para
penyuluh.
·
Penyuluh dinilai
peternak telah tergolong cukup perannya, baik dalam perannya sebagai pendidik
maupun sebagai fasilitator.
·
Hal yang sudah baik dari
penyuluh dalam perannya sebagai pendidik adalah dalam cara penyampaian materi,
materi yang diberikan sudah berhubungan dengan pengetahuan peternak, dan
tingkat kemampuan dalam menjelaskan materi.
·
Hal yang belum dilakukan
dengan baik oleh penyuluh dalam perannya sebagai pendidik adalah dalam
kelengkapan materi aspek manajemen usaha, perhatiannya terhadap kesiapan mental
peternak, dan pengulangan aktivitas demonstrasi.
·
Hal yang sudah baik
dilakukan penyuluh dalam perannya sebagai fasilitator adalah dalam hal
pengenalan sumber-sumber informasi. Yang kurang adalah dalam hal penyediaan
sarana belajar.
·
Penyuluh sebagai
pendidik agar dapat lebih meningkatkan perhatiannya dalam melengkapi materi
khususnya materi aspek manajemen usaha, kesiapan mental peternak dalam menerima
penyuluhan, dan pengulangan kegiatan demonstrasi.
·
Penyuluh sebagai
fasilitator agar dapat lebih meningkatkan perhatiannya dalam penyediaan sarana
belajar bagi peternak, sehingga akan meningkatkan keberhasilan kegiatan
pembelajaran peternak.
DAFTAR
PUSTAKA
Ban, A.W. van den., dan
H.S. Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Yogyakarta:
Kanisius.
Dasuki, A. dan Rahayu S.
1985. Perbandingan Biaya Usaha Pokok
Usaha Ternak Sapi Perah Pada Berbagai Skala Usaha. Laporan Hasil
Penelitian. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Bandung.
Effendi,
S. 1995. “Prinsip-prinsip Pengukuran dan Penyusunan Skala”. Dalam:
Metode Penelitian Survai. Diedit M. Singarimbun
dan S. Effendi. Jakarta:
LP3ES.
Ensminger, ME. 1969. Dairy Cattle Science. 3’ed. Interstate
Publisher. Inc Deville. Illinois.
Samsudin, U.S. 1987. Dasar-dasar Penyuluhan dan Modernisasi
Pertanian. Bina Cipta. Bandung.
Singarimbun, M., dan
Sofian E. 1995. Metode Penelitian Survai.
LP3ES. Jakarta.
Sjahir, A. 2003. Bisakah Usaha Sapi Perah Menjadi Usaha Pokok?
Fakultas Kedokteran Hewan. Institut
Pertanian Bogor.
Sudono, A. 1983. Pemeliharaan
Sapi Perah. Direktorat Bina Produksi Peternakan. Jakarta: Direktorat Jenderal
Peternakan, Departemen Pertanian.
Tjitropranoto, P. 2003. ”Penyuluhan Pertanian Masa Kini dan Masa
Depan”. Dalam Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan, Disunting Ida
Yustiana dan
Adjat Sudrajat. IPB
Press
Komentar
Posting Komentar