TUGAS PRAKTIKUM APLIKOM - USAHATANI BUDAYA KOPI - KANISIUS KARO - 18024010018 - SA 2
Usahatani dalam Membudidayakan Tanaman Kopi
Kopi merupakan komoditas perkebunan yang
paling banyak diperdagangkan. Pusat-pusat budidaya kopi ada di Amerika Latin,
Amerika Tengah, Asia-pasifik dan Afrika. Sedangkan konsumen kopi terbesar ada
di negara-negara Eropa dan Amerika Utara. Wajar bila komoditas ini sangat aktif
diperdagangkan. Kopi merupakan tanaman tahunan yang bisa mencapai umur produktif
selama 20 tahun. Untuk memulai usaha budidaya kopi, pilihlah jenis tanaman kopi
dengan cermat. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan budidaya kopi diantaranya
jenis tanaman, teknik budidaya, penanganan pasca panen, dan pemasaran produk
akhir. Berikut ini adalah usahatani dalam membudidayakan tanaman kopi :
Pemilihan Jenis dan Varietas
Tanaman kopi sangat banyak jenisnya,
bisa mencapai ribuan. Namun yang banyak dibudidayakan hanya empat jenis saja
yakni arabika, robusta, liberika dan excelsa. Masing-masing jenis tersebut
memiliki sifat yang berbeda-beda. Untuk lebih detailnya silahkan baca mengenal
jenis-jenis kopi budidaya. Memilih jenis tanaman untuk budidaya kopi, harus
disesuaikan dengan tempat atau lokasi lahan. Lokasi lahan yang terletak di
ketinggian lebih dari 800 meter dpl cocok untuk ditanami arabika. Sedangkan
dari ketinggian 400 – 800 meter bisa ditanami robusta. Budidaya kopi didataran
rendah bisa mempertimbangkan jenis liberika atau excelsa. Selain dari sisi
teknis budidaya, hal yang patut dipertimbangkan adalah harga jual produk akhir.
Kopi arabika cenderung dihargai lebih tinggi dari jenis lainnya. Namun robusta
memiliki produktivitas yang paling tinggi, rendemennya juga tinggi.
Penyiapan
Bibit Budidaya Kopi
Setelah memutuskan budidaya kopi yang
cocok, langkah selanjutnya adalah mencari bibit yang unggul, menyiapkan lahan
dan pohon peneduh. Informasi mengenai bibit unggul untuk budidaya kopi bisa
ditanyakan ke Puslit Kopi dan Kakao atau toko bibit terpercaya. Sementara itu,
pohon peneduh harus sudah disiapkan setidaknya 2 tahun sebelum budidaya kopi dilaksanakan.
Untuk budidaya kopi arabika sumber tanaman yang digunakan adalah varietas.
Contohnya adalah varietas S 795, USDA 762, Kartika-1 dan Kartika-2. Sedangkan
untuk budidaya kopi robusta sumber tanaman yang digunakan dalah klon. Contohnya
klon BP 42 atau BP 358. Perbanyakan bibit pohon kopi bisa didapatkan dengan Teknik
generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif dari biji biasanya digunakan
untuk budidaya kopi arabika, sedangkan kopi robusta lebih sering menggunakan
perbanyakan vegetatif dengan setek. Masing-masing metode perbanyakan bibit
mempunyai keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri. Lebih detailnya silahkan
baca artikel terdahulu tentang perbanyakan bibit kopi dengan biji dan
perbanyakan bibit kopi dengan setek.
Penyiapan Lahan dan Pohon Peneduh
Budidaya kopi bisa dilakukan baik
didataran tinggi maupun rendah, tergantung dari jenisnya. Secara umum kopi
menghendaki tanah gembur yang kaya bahan organik. Untuk menambah kesuburan
berikan pupuk organik dan penyubur tanah di sekitar area tanaman. Arabika akan
tumbuh baik pada keasaman tanah 5 – 6,5 Ph, sedangkan robusta pada tingkat
keasaman 4,5 – 6,5 Ph. Hal yang harus disiapkan sebelum memulai budidaya kopi
adalah menanam pohon peneduh. Guna pohon peneduh untuk mengatur intensitas
cahaya matahari yang masuk. Tanaman kopi termasuk tumbuhan yang menghendaki
intensitas cahaya mataheri tidak penuh. Jenis pohon peneduh yang sering
digunakan dalam budidaya kopi adalah dadap, lamtoro dan sengon. Pilih pohon
pelindung yang tidak membutuhkan banyak perawatan dan daunnya bisa menjadi
sumber pupuk hijau. Pohon pelindung jenis sengon harus ditanam 4 tahun sebelum
budidaya kopi. Sedangkan jenis lamtoro bisa lebih cepat, sekitar 2 tahun
sebelumnya. Tindakan yang diperlukan untuk merawat pohon pelindung adalah
pemangkasan daun dan penjarangan.
Penanaman Bibit Kopi
Apabila lahan, pohon peneduh dan bibit
sudah siap, langkah selanjutnya adalah memindahkan bibit dari polybag ke lubang
tanam di areal kebun. Jarak tanam budidaya kopi yang dianjurkan adalah 2,75×2,75
meter untuk robusta dan 2,5×2,5 meter untuk arabika. Jarak tanam ini
divariasikan dengan ketinggian lahan. Semakin tinggi lahan semakin jarang dan
semakin rendah semakin rapat jarak tanamnya. Buat lubang tanam dengan ukuran
60x60x60 cm, pembuatan lubang ini dilakukan 3-6 bulan sebelum penanaman. Saat
penggali lubang tanam pisahkan tanah galian bagian atas dan tanah galian bagian
bawah. Biarkan lubang tanam tersebut terbuka. Dua bulan sebelum penanaman
campurkan 200 gram belerang dan 200 gram kapur dengan tanah galian bagian
bawah. Kemudian masukkan kedalam lubang tanam. Sekitar 1 bulan sebelum bibit
ditanam campurkan 20 kg pupuk kompos dengan tanah galian atas, kemudian
masukkan ke lubang tanam. Kini bibit kopi siap ditanam dalam lubang tanam.
Sebelumnya papas daun yang terdapat pada bibit hingga tersisa ⅓ bagian untuk
mengurangi penguapan. Keluarkan bibit kopi dari polybag, kemudian gali sedikit
lubang tanam yang telah dipersiapkan. Kedalaman galian menyesuaikan dengan
panjang akar. Bagi bibit yang memiliki akar tunjang usahakan agar akar tanaman
tegak lurus. Tutup lubang tanam agar tanaman berdiri kokoh, bila diperlukan
beri ajir untuk menopang tanaman agar tidak roboh.
Perawatan Budidaya Kopi
Langkah yang diperlukan untuk
pemeliharaan budidaya kopi adalah penyulaman, pemupukan pemangkasan dan
penyiangan. Berikut penjelasannya :
a. Penyulaman
Setelah bibit ditanam di areal kebun,
periksa pertumbuhan bibit tersebut setidaknya seminggu dua kali. Setelah bibit
berumur 1 – 6 bulan periksa sedikitnya satu bulan sekali. Selama periode
pemeriksaan tersebut, bila ada kematian pada pohon kopi segera lakukan
penyulaman. Penyulaman dilakukan dengan bibit yang sama. Lakukan perawatan yang
lebih instensif agar tanaman penyulam bisa menyamai pertumbuhan pohon lainnya.
b. Pemupukan
Pemberian pupuk untuk budidaya kopi bisa
menggunakan pupuk organik atau pupuk buatan. Pupuk organik bisa didapatkan dari
bahan-bahan sekitar kebun seperti sisa-sisa hijauan dari pohon pelindung atau
kulit buah kopi sisa pengupasan kemudian dibuat menjadi kompos. Kebutuhan pupuk
untuk setiap tanaman sekitar 20 kg dan diberikan sekitar 1 – 2 tahun sekali. Cara
memberikan pupuk dengan membuat lubang pupuk yang mengitari tanaman. Kemudian
masukkan kompos kedalam lubang pupuk tersebut. Bisa juga dicampurkan pupuk
buatan kedalam kompos. Untuk tanah yang asam dengan Ph dibawah 4,5 pemberian
pupuk dicampur dengan setengah kilogram kapur. Pemerian kapur dilakukan 2 – 4 tahun
sekali. Untuk memperkaya bahan organik areal perkebunan bisa ditanami dengan
tanaman penutup tanah. Tanaman yang biasa dijadikan penutup tanah dalam
budidaya kopi diantaranya bunguk (Mucuna munanease) dan kakacangan (Arachis
pintol). Tanaman penutup tanah berfungsi sebagai pelindung dan penyubur
tanah, selain itu hijauannya bisa dijadikan sumber pupuk ocusc.
c. Pemangkasan Pohon
Terdapat dua tipe pemangkasan dalam
budidaya kopi, yaitu pemangkasan berbatang tunggal dan pemangkasan berbatang
ganda. Pemangkasan berbatang tunggal lebih cocok untuk jenis tanaman kopi yang
mempunyai banyak cabang sekunder semisal arabika. Pemangkasan ganda lebih
banyak diaplikasikan diperkebunan rakyat yang menanam robusta. Pemangkasan ini
lebih sesuai pada perkebunan di daerah dataran rendah dan basah. Berdasarkan
tujuannya, pemangkasan dalam budidaya kopi dibagi menjadi tiga macam yaitu :
Pemangkasan Pembentukan
Bertujuan membentuk kerangka tanaman
seperti bentuk tajuk, tinggi tanaman dan tipe percabangan.
Pemangkasan Produksi
Bertujuan memangkas cabang-cabang yang
tidak produktif atau cabang tua. Hal ini dilakukan agar tanaman lebih fokus
menumbuhkan cabang yang produktif. Selain itu, pemangkasan ini juga untuk
membuang cabang-cabang yang terkena penyakit atau hama.
Pemangkasan Peremajaan
Dilakukan pada tanaman yang telah
mengalami penurunan produksi, hasil kuranng dari 400 kg/ha/tahun atau bentuk
tajuk yang sudah tak beraturan. Pemangkasan dilakukan setelah pemupukan untuk
menjaga ketersediaan nutrisi.
d. Penyiangan Gulma
Tanaman kopi harus selalu bersih dari
gulma, terutama saat tanaman masih muda. Lakukan penyiangan setiap dua minggu,
dan bersihkan gulma yang ada dibawah tajuk pohon kopi. Apabila tanaman sudah
cukup besar, pengendalian gulma yang ada diluar tajuk tanaman kopi bisa
memanfaatkan tanaman penutup tanah. Penyiangan gulma pada tanaman dewasa
dilakukan apabila diperlukan saja.
Hama dan Penyakit
Lahan budidaya kopi yang terserang hama
dan penyakit akan mengalami penurunan produktivitas, kualitas mutu kopi dan
bahkan kematian tanaman. Beberapa hama dan penyakit yang umum menyerang tanam
kopi adalah sebagai berikut :
a. Hama Penggerek Buah Kopi
Menyerang tanaman muda maupun tua.
Akibat serangan buah akan berguguran atau perkembangan buah tidak normal dan
membusuk. Pengendalian bisa hama ini adalah dengan meningkatkan sanitasi kebun,
pemapasan pohon naungan, pemanenan buah yang terserang, dan penyemprotan kimia.
b. Penyakit Karat Daun (HV)
Biasanya menyerang tanaman arabika.
Gejala serangannya bisa dilihat dari permukaan daun yang mengalami bercak
kuning, semakin lama menjadi kuning tua. Bisa dihindari dengan menanam kopi
arabika diatas ketinggian 1000 meter dpl. Pengendalian lainnya bisa dilakukan
dengan penyemprotan kimia, memilih varietas unggul, dan kultur teknis.
c. Penyakit Serangan Nematoda
Banyak ditemui di sentra-sentra
perkebunan kopi robusta. Serangan ini bisa menurunkan produksi hingga 78%.
Pengendalian penyakit ini bisa dilakukan dengan menyambung tanaman dengan
batang bawah yang tahan nematoda. Untuk lebih detail mengenai hama dan penyakit
pada tanaman kopi silahkan baca artikel pengendalian hama dan penyakit kopi.
Panen dan Pasca Panen
Tanaman yang dibudidayakan secara
intensif sudah bisa berbuah pada umur 2,5 – 3 tahun untuk jenis robusta dan 3 – 4 tahun
untuk arabika. Hasil panen pertama biasanya tidak terlalu banyak, produktivitas
tanaman kopi akan mencapai puncaknya pada umur 7 – 9 tahun. Panen budidaya kopi
dilakukan secara bertahap, panen raya bisa terjadi dalam 4 – 5 bulan dengan
interval waktu pemetikan setiap 10 – 14 hari. Pemanenan dan pengolahan pasca
panen akan menentukan mutu produk akhir.
Kesimpulan : Kopi merupakan salah satu hasil komoditi
perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di antara tanaman
perkebunan lainnya dan berperan penting sebagai sumber devisa negara. Kopi
tidak hanya berperan penting sebagai sumber devisa melainkan juga merupakan
sumber penghasilan bagi tidak kurang dari satu setengah juta jiwa petani kopi
di Indonesia. Keberhasilan agribisnis kopi membutuhkan dukungan semua pihak
yang terkait dalam proses produksi kopi pengolahan dan pemasaran komoditas
kopi.
Komentar
Posting Komentar